Tuesday, April 17, 2007

Writer’s Block

Writer’s Block

Oleh: - 16 Jan 2007, 12:09 pm

“Hare gene macet nulis?” Itu pertanyaan gaul di lingkungan sebuah forum penulisan guna memberi semangat para peminat yang terganjal ide tak tahu mau menulis apa.

Faktanya memang, bukan saja yang pemula yang suka macet dan termenung di depan komputer, kehilangan kata-kata. Penulis profesional sekali pun, yang hidup justru dari kegiatan menulis, pasti pernah mengalami situasi seperti ini. Inilah yang disebut writer’s block; situasi yang mengerangkeng sang penulis dalam status quo, macet tak ada langkah maju. Secara psikologis ia disebut terkait dengan depresi dan anxiety yang menandai adanya disorder pada frontal lobe dari otak seseorang.

Fenomenanya bisa saja separah situasi black out, betul-betul gelap tak ada cahaya, maupun seringan kehilangan pilihan kata belaka. Ada yang terpenjara sampai sangat lama, ada yang cepat saja berlalu dan maju lagi.

Coba lihat dalam film-film. Cukup sering kita saksikan adegan seorang tokoh yang mentok tak punya ide dan berulang-ulang merobek dan membuang kertas yang telah dituliskannya. Kalau dalam film kartun yang hiperbolis, tentulah kertas yang disobek dan dibuang itu akan menumpuk sampai menggunung. Macet!

Waktu mahasiswa biasanya tekanan untuk menulis itu sangat terasa. Mulai dari makalah sampai skripsi. Terutama yang terakhir ini, bagi sebagian mahasiswa bisa berbulan atau bertahun lamanya proses penulisan yang berlangsung. Betul-betul merupakan saat-saat yang menekan dan membuat frustrasi.

Penulis novel pun sering menghadapi hal ini, macet pada draft yang tak maju-maju. Sebagian bahkan bertahun-tahun. Kalau anda pernah menonton film Finding Forester yang dibintangi Sean Connery, itu adalah kisah seorang penulis novel berkepribadian tertutup (reclusive), William Forester, yang hanya menghasilkan sebuah karya besar dan itu satu-satunya karya yang dihasilkan hingga bertahun-tahun. Tentu ada banyak contoh lain, termasuk dalam dunia nyata. Penulis Amerika Henry Roth (1906-1995), misalnya, mengalami masalah ini secara kronis yang berlangsung sampai enam dekade.

Memang penghalang yang dihadapi masing-masing orang dapat saja berlainan. Ide atau inspirasi bisa saja sama sekali tidak datang. Dalam sebuah serial komedi Seinfeld (season 7), Jerry bahkan mempercandakan Elaine yang beroprofesi sebagai penulis katalog produk komersil, karena macet dan bingung tidak tahu mau menuliskan apa tentang sebuah produk sepatu gunung. “Catalaog writer’s block?” sindir Jerry.

Karena sudah menjadi ‘penyakit umum’ seperti layaknya flu atau pusing, berbagai resep telah disarankan untuk mengatasi masalah ini. Anda dapat mencari dan memilih berbagai langkah cepat yang ditawarkan. Namun, tentunya juga seperti flu dan pusing, tidak semua merek obat yang diiklankan akan mujarab bagi semua orang. Dosis masing-masing bisa berlainan.

Yang jelas, writer’s block lebih sering berasal dari diagnosa psikologis diri penulis itu sendiri. Seringkali ambisi untuk menghasilkan sebuah karya tulis yang luar biasa akan menjadi beban penghalang yang sangat berat. Tidak jarang bahwa target besar menjadi batu penghalang yang dipasang sendiri di depan mata, bahkan sebelum betul-betul memulai.

Memang tanpa ambisi besar pun, menulis tidak selalu mudah dilakukan. Selalu saja ada seribu satu alasan yang membuat kita gagal atau terus menunda untuk menorehkan kata pertama itu. Jika ini yang terjadi pada anda, saran terbaiknya bukanlah mencari selusin pembenaran lain, tetapi langsung tuliskan saja kata itu, apa pun ia.

Biasanya, apabila kita takut melakukan sesuatu, resep terbaik untuk mengatasinya (jika memang perlu diatasi) justru dengan spontan melakukan apa yang ditakutkan itu. Face your fear, kata orang; dan kita dapat saja akan heran sendiri ketika ternyata setelah dihadapi, masalah yang tadi terasa sangat berat ternyata hanya ringan saja.

Writer’s block? Aha! Saya merasa mengalami masalah ini sejak beberapa waktu belakangan: walau pun demikian banyak yang singgah dan menggumpal di kepala, mereka tetap tidak tumpah menjadi jalinan kata-kata seperti yang diinginkan. Herannya, alasan pembenaran bagi saya untuk membiarkan pengganjal itu berkuasa adalah tuts huruf k pada laptop saya.

Mmm, beberapa waktu yang lalu, ketika membersih-bersihkan debu barisan keyboard di halaman laptop, tuts huruf k macet dan ketika saya coba perbaiki malah semakin rusak, sehingga kalau tidak ditekan keras, huruf k tidak akan tertulis di layar, padahal semua tuts yang lain tetap lembut.

Begitu saja, soal huruf k telah berubah menjadi pengganjal yang membuat malas menulis. Bayangkan betapa mudahnya tercipta alasan untuk mengganjal kreatifitas. Masing-masing kita dapat saja memiliki beragam alasan untuk tidak jadi produktif—writer’s block itu.

Masih belum puas? Saya pun jadi teringat sebuah karikatur di blaug.com. Adegannya, Stan mengatakan bahwa ia tidak tahu mau menulis apa di blognya hari ini, yang justru dijawab ringan oleh temannya, “That hasn’t stopped you from writing about nothing before, Stan”.

Persis itu pula alasan mengapa saya menulis soal writer’s block ini.

No comments: