Sunday, March 9, 2008

BSI KUSAYANG , MAHASISWANYA MALANG

Mahasiswa adalah kata bagi orang yang mempunyai intelektualitas tinggi, leadership, relationship, dan human society. Kadang kita merinding mendengar kata itu dari kalangan masyarakat sampai para penguasa (pejabat), namun hal itu belum ada di mahasiswa BSI. Kepekaan naluri mahasiswanya masih di bawah standar, hanya segelintir orang yang memenuhi hal tersebut dari puluhan ribu mahasiswa BSI. Gencarnya iklan, promosi dan lain sebagainya hanya dapat menjamin kelangsungan hidup di dunia kerja.
Kupu-kupu kampus (kuliah-pulang-kampus) bertebaran sebagai ideologi mahasiswa yang tidak menyadari banyaknya pilihan aktivitas di kampus yang akan membantu dalam segala bidang, mulai dari keilmuan sampai bakat dan hobi. Mahasiswa kini makin tumpul akan pengalaman, tanpa wawasan dan kreatifitas yang lebih dari pada masyarakat biasa. Hal ini terbukti dengan banyaknya sarjana pengangguran, tidak berkualitas dan menambah beban masyarakat dikarenakan minimnya skill dan tidak mampu menjadi competitor yang lebih baik dari mereka.
Tridarma perguruan tinggi sudah dilupakan dari benak mahasiswa yang seharusnya menjadi acuan dasar bagi civitas akademi, harapan masyarakat, agent of change bangsa ini. Kini BSI sudah melebarkan sayapnya ke penjuru negri guna mencerdaskan anak bangsa, suatu tindakan yang mulia. Lalu kemanakah anak bangsa yang sudah cerdas? Serasa hilang ditelan zaman.
Ketika masyarakat kelaparan, membutuhkan dukungan, mahasiswa malah sibuk memikirkan diri sendiri, memikirkan nilai yang lebih rendah dari harga diri. Mahasiswa lupa, bahwa permasalahan masyarakat adalah permasalahan bersama yang menyangkut kehidupan mereka (mahasiswa) yang harus segera diselesaikan. Karena dari tangan mahasiswalah perubahan terjadi.
Kuliah bukanlah segala-galanya, namun dari kuliahlah segalanya terjadi. Pengalaman, kratifitas dan potensi ditempa dalam wadah organisasi yang banyak berdiri di BSI. Namun malang, Ormawa (organisasi mahasiswa) yang ada tidak dimanfaatkan oleh mahasiswa sehingga ketika mereka lulus harus berjuang mempromosikan ijazah demi kelangsungan hidup.
Andaikata, mahasiswa mau berjuang dan belajar bersama dalam keorganisasian, setidaknya ada keinginan berubah. Niscaya, pengalaman yang didapat di organisasi dapat diterapkan di lingkungan sehingga mahasiswa tidak dianggap sebagai masalah tapi solusi pemecah masalah.
*Mantan Ketua BEM BSI periode 2006-2007

5 comments:

Anonymous said...

saya jadi tertarik dengan artikel ini, sebanrnya saya belum sempet baca semu dari artikel tersebut, tapi secara umum saya cukup mengerti akan kekhawatiran tersebut.
kadang saya merasa heran dengan mahasiswa di bsi entah apa motivasi dari kuliah mereka sehingga berpikir sempit dan cendrung oportunis, bayangkan saja selama saya kuliah dbsi banyak sekali program yang saya tawarkan dan banyak pula tolakan dari pada sambutan padahal kesemua itu demi kebaikan kita semua termasuk pihak kampus, inilah realita.
terkadang hal seperti ini menimbulakn statment yang terdengar kurang enak ditelinga kita, dan tidak sedikit masyarakat yang selalu memandang sebelah mata mahasiswa bsi yakin atau tidak fakta memang seperti itu, tentu pradigma semacam ini bukan tanpa alasan. seharusnya kita sebagai mahasiswa bsi justru harus termotivasi dan terpacu agar dapat diterima dan dihargai dimasysrakat dan tentunya ini akan balance jika di tunjang dengan dukungan management kampus.

Anonymous said...

Weeew dualem neh, promosinya kurang bung, coba anda tampilkan ketika osmik

Soenoko Skom said...

waw manchab

Anonymous said...

Loyalitasnya kurang bgt dari para mahasiswa senior yang sudah masuk kedalam organisasi...dan kurang nya dukungan yang didapatkan bagi warga BSI dari para petinggi cabang BSI atau, bisa di bilang "ga pernah mendukung aspirasi atau ide2 kreatif yang dimunculkan warga BSI,,,Kecuali Senat". jadi gimana Mahasiswa nya mau maju.....Cuma senat aja yang "sok sibuk"....

Unknown said...

Di BSI khususnya cengkareng organisasi nya ada apa saja kak? Dan kegiatannya / eksul ya ada apa saja+ ? Kebetulan sya mau masuk situ jga.